• ini kisah X dan Y yang sedang menikmati perjalanan dengan angkutan kota. X dan Y, teridentifikasi sebagai makhluk dengan kromosom XX yang entah bagaimana sepertinya disusupi gen untuk tak henti berkisah.
• X : Aku sedih ya, objek KKN aku jarang shalat padahal pake jilbab. Aku yang pakai jilbab sedih donk, masa jilbab dibilang panas sama ibunya...
• Y : :)
• X : Makanya aku berpikir, kita nggak bisa lihat orang dari jilbabnya. Makanya aku yang tadinya pake jilbab lebar, didobel, sekarang aku nggak lagi. Aku khawatir ilmu aku belum sampai...
• Y : *geleng-geleng kepala kuat-kuat*
• X : Tapi aku masih ikut aturan kok, jilbab sampai dada.
• Y : *Hening lama, mengatur nafas, mengelola riak, mengolah kata, memindahkan topik hingga tenang.* X, mendobel jilbab itu bukan karena seseorang lebih baik dari yang lain. Tapi karena keadaan. Model jilbab sekarang kan tipis-tipis semua, sampai ada yang bilang macam saringan tahu. Karena tipis itu makanya terpaksa didobel. Kan perintah Allah menutup aurat, bukan membungkus aurat. Kalau membungkus, macam kado, ada kemungkinan kadonya tetap kelihatan kan? Cuma ditambah hiasan. Tapi kalau menutup ya sudah ditutup semua. Kalau jilbab, menutup, itu termasuk bentuk lehernya, atau malah mungkin warna kulit lehernya sendiri. *Aku bisa melihat lehermu dari sini, sista.*
• (Urutan kalimat disesuaikan demi efisiensi cerita tanpa mengurangi substansi pokoknya.)
• Tidak untuk mendiskreditkan seseorang atau sekelompok orang.
• Hanya karena sayang.
• Mari berbenah diri bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar